1.
Berikan
penjelasan apakah olahraga adaptif penting untuk anda pelajari? Mengapa?
Ø Penting, karena
dengan mempelajari ilmu olahraga adaptif ini kita tahu bagaimana saat
berhadapan dengan anak ABK. Seperti teori yang dikemukan oleh Sherril adalah,
pendidikan jasmani khusus didefinisikan sebagai satu sistem penyampaian
pelayanan yang komperhensif yang dirancang untuk mengidentifkasi, dan dan
memecahkan masalah dalam ranah psikomotor. Pelayanan tersebut mencakup
penilaian, program pendidikan individual (PPI), pengajaran bersifat
pengembangan dan/atau yang disarankan, konseling, dan kordinasi dari
sumber/layanan yang terkait untuk memberikan pengalaman pendidikan jasmani yang
optimal kepada semua anak dan pemuda. Jadi dengan sudah ada ilmu adaptif ini
jadi kita bisa membuat modifikasi dalam membantu psikotor anak ABK tersebut.
2.
Apa
yang menjadi tujuan olahraga adaptif?
Ø Tujuan penjas
adaptif menurut Prof. Alma Abdoellah, MSc :
· Untuk menolong
siswa mengkoreksi kondisi yang dapat diperbaiki.
· Untuk membantu
siswa melindungi diri sendiri dari kondisi apapun yang memperburuk
keadaannya melalui Penjas tertentu.
· Untuk memberikan
kesempatan pada siswa mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam
olahraga dan aktivitas jasmani, waktu luang yang bersifat rekreasi.
· Untuk menolong
siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mental.
· Untuk membantu siswa melakukan penyesuaian sosial dan
mengembangkan perasaan memiliki harga diri.
· Untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan
apresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik.
· Untuk menolong siswa memahami dan menghargai macam
olahraga yang dapat diminatinya sebagai penonton.
Jadi
dengan adanya olahraga adaptif ini bisa mendorong dan menolong siswa yang
khusus (ABK) untuk bisa meraih prestasi atau meningkatkan psikomotor dengan
adanya modifikasi alat yang dibuat khusus untuk yang sesuai dengan kebutuhan.
3.
Simpulkan
dengan kalimat sendiri apa yang dimaksud dengan penjas dan olahraga!
Ø 1. Pengertian Pendidikan Jasmani
Pendidikan
Jasamani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perseorangan maupun
angota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai
kegiatan jasmani dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan ketrampilan
jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan pembentukan watak.
2. Pengertian
Olahraga
Pengertian
olahraga adalah suatu bentuk kegiatan jasmani yang terdapat di dalam permainan,
perlombaan dan kegiatan intensif dalam rangka memperoleh relevansi kemenangan
dan prestasi optimal.
4.
Apa yang menjadi persamaan dan perbedaan antara penjas
dan olahraga?
Ø
a. Persamaan
kesamaan
penjas dengan olahraga yaitu sama-sama menggunakan aktivitas gerak insani.
b. Perbedaan
bedanya kalau
penjas lebih mengarah kependidikan walaupun menggunakan cabang olahraga tapi
kalau olahraga lebih untuk meningkatkan prestasi yang optimal.
Dapat
disimpulkan bahwasanya penjas dan olahraga itu ialah aktivitas pendidikan
jasmani merupakan bagian dari pendidikan, sedangkan olahraga terbatas pada
aktivitas olahraga itu sendiri. Selain aktivitas ritmik, aquatik, outbound,
permainan dan aktivitas pengembangan tubuh maka aktivitas olahraga merupakan
salah satu bentuk dari aktivitas pendidikan jasmani. Dapat disimpulkan bahwa
ruang lingkup aktivitas pendidikan jasmani lebih luas dan beragam daripada
aktivitas olahraga.
5.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan ABK? Anak mana saja
yang tergolong sebagai ABK?
Ø Anak dengan kebutuhan
khusus adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami
kelainan/penyimpangan (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dalam
proses pertumbuhan/ perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain
seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Anak berkebutuhan
khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda
dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental,
emosi atau fisik.
Ø Ciri-ciri yang
tergolong ABK
1. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan
Tunanetra
adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya, berupa kebutaan
menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan
alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
2. Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran
Tunarungu
adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga
tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah
diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan
pendidikan khusus.
3. Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan
Tunadaksa
adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak
(tulang, sendi, otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan
khusus.
4. Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa
Anak
berbakat adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (inteligensi),
kreativitas, dan tanggungjawab terhadap tugas (task commitment) di atas
anak-anak seusianya (anak normal), sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi
prestasi nyata, memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
5. Tunagrahita
Tunagrahita
(retardasi mental) adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan
keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa
sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun
sosial, dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus.
6. Lamban belajar (slow learner) :
Lamban
belajar (slow learner) adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di
bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. Dalam beberapa hal mengalami
hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan adaptasi sosial,
tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita, lebih lamban
dibanding dengan yang normal, mereka butuh waktu yang lebih lama dan
berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non
akademik, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
7. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik
Anak
yang berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang secara nyata mengalami
kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan
membaca, menulis dan berhitung atau matematika), diduga disebabkan karena
faktor disfungsi neugologis, bukan disebabkan karena factor inteligensi
(inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal), sehingga memerlukan
pelayanan pendidikan khusus. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa
kesulitan belajar membaca (disleksia), kesulitan belajar menulis (disgrafia), atau
kesulitan belajar berhitung (diskalkulia), sedangkan mata pelajaran lain mereka
tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti)
8. Anak yang mengalami gangguan komunikasi;
Anak
yang mengalami gangguan komunikasi adalah anak yang mengalami kelainan suara,
artikulasi (pengucapan), atau kelancaran bicara, yang mengakibatkan terjadi
penyimpangan bentuk bahasa, isi bahasa, atau fungsi bahasa, sehingga memerlukan
pelayanan pendidikan khusus. Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak
selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan.
9. Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan
perilaku.
Tunalaras
adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku
tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia
maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain,
dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya
maupun lingkungannya.
6.
Deskripsikan
tentang anak autis?
Ø Autisme adalah
suatu gangguan perkembangan syaraf ditandai dengan gangguan interaksi sosial dan komunikasi, dan
perilaku terbatas dan berulang. Tanda-tanda ini semuanya dimulai sebelum anak
berusia tiga tahun. autism mempengaruhi pengolahan informasi dalam otak dengan
mengubah cara sel-sel saraf dan sinapsmenghubungkan
dan mengatur; bagaimana hal ini terjadi belum dipahami dengan baik. Dua
lainnya spektrum autisme disorders
(ASD) adalah sindrom Asperger, yang tidak
memiliki keterlambatan dalam perkembangan kognitif dan bahasa, dan PDD-NOS, didiagnosis
saat penuh kriteria untuk gangguan dua lainnya tidak terpenuhi.
7.
Apa saja yang dapat dimodifikasi dalam mengajar
Penjas adaptif untuk ABK?
Ø Dari masalah
yang disandang dan karakteristik setiap jenis ABK maka menuntut adanya
penyesuaian dan modifikasi dalam pengajaran Pendidikan Jasmani bagi ABK.
Penyesuaian dan modifikasi dari pengajaran penjas bagi ABK dapat terjadi pada:
Ø Modifikasi
aturan main dari aktivitas pendidikan jasmani.
Ø Modifikasi
keterampilan dan tekniknya.
Ø Modifikasi
teknik mengajarnya.
Ø Modifikasi lingkungannya
termasuk ruang, fasilitas dan peralatannya.
Seorang
ABK yang satu dengan yang lain, kebutuhan aspek yang dimodifikasi tidak sama.
ABK yang satu mungkin membutuhkan modifikasi tempat dan arena bermainnya. ABK
yang lain mungkin membutuhkan modifikasi alat yang dipakai dalam kegiatan
teraebut. Tetapi mungkin yang lain lagi disamping membutuhkan modifikasi area
bermainnya juga butuh modifikasi alat dan aturan mainnya. Demikian pula
seterusnya, tergantung dari jenis masalah, tingkat kemampuan dan karakteristik
dan kebutuhan pengajaran dari setiap jenis ABK. Misalnya seperti siswa memakai
kursi roda bisa bermain bola basket dalam satu tim.
8.
Apa
yang dimaksudkan dengan pendidikan segresi, pendidikan terpadu, dan pendidikan
inklusi. Berikan contohnya masing-masing.
Ø a. Segresif
Sistem
pendidikan segregasi adalah sistem pendidikan dimana anak berkebutuhan khusus
terpisah dari sistem pendidikan anak pada umumnya. Penyelengggaraan sistem
pendidikan segregasif dilaksanakan secara khusus dan terpisah dari penyelenggaraan
pendidikan untuk anak pada umumnya.
Contohnya
: seperti di Indonesia didirikan sekolah yang emang khusus pada anak ABK yang
beda sama anak umumnya, sekolah yang dibuat khusus untuk anak ABK ialah SLB
yang dihuni mayoritas anak ABK.
b.
Terpadu
Sistem ini merujuk pada
bersekolahnya seorang anak tunagrahita pada sekolah regular. Dapat diartikan
pada proses memindahkan seorang siswa pada lingkungan yang tidak terlalu
terpisah. Seseorang anak yang bersekolah pada sekolah regular, tetapi berada pada
unit atau kelas khusus. Meskipun siswa tersebut berada pada kelas khusus ,
jelas bahwa apabila kelas tersebut pada sekolah regular, peluang untuk
berinteraksi dengan anggota lain masyarakat sekolah secara umum jauh lebih
besar dari pada anak yang berada pada sekolah khusus yang terpisah.
Contohnya
: anak yang digolongkan ABK seperti anak tuna grahita masih di padukan dengan
anak reguler biasanya yang tidak dipisahkan.
c.
inklusi
Pendidikan inklusif
merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi system pendidikan
dengan meniadakan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk
berpartisipasi penuh daam pendidikan.
Contohnya : anak yang ABK di pendidikan inklusi ini
diberi kesempatan seperti anak regular biasanya untuk meraih keberhasilan.
9.
Jelaskan tentang karakteristik anak tunanetra dan
kebutuhan pembelajarannya.
Karakteristik
Anak Tunanetra
Karakteristik
Anak Tunanetra dalam Aspek Akademis Tilman & Osborn (1969) menemukan
beberapa perbedaan antara anak tunanetra dan anak awas.
Ø Anak tunanetra
menyimpan pengalaman-pengalaman khusus seperti halnya anak awas, namun
pengalaman-pengalaman tersebut kurang terintegrasikan.
Ø Anak tunanetra
mendapatkan angka yang hampir sama dengan anak awas, dalam hal berhitung,
informasi, dan kosakata, tetapi kurang baik dalam hal pemahaman (comprehention)
dan persaman.
Ø Kosa kata anak
tunanetra cenderung merupakan kata-kata yang definitif.
Ø Karakteristik
Anak Tunanetra dalam Aspek pribadi dan Sosial
Ø Ketunanetraan
tidak secara langsung menyebabkan timbulnya masalah kepribadian. Masalah
kepribadian cenderung diakibatkan oleh sikap negatif yang diterima anak
tunanetra dari lingkungan sosialnya.
Ø Anak tunanetra
mengalami kesulitan dalam menguasai keterampilan sosial, karena keterampilan
tersebut biasanya diperoleh individu melalui model atau contoh perilaku dan
umpan balik melalui penglihatan.
Ø Beberapa
karakteristik sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari
ketunanetraannya, adalah curiga terhadap orang lain, mudah tersinggung, dan
ketergantungan pada orang lain.
Ø Karakteristik
Anak Tunanetra dalam Aspek Fisik/Indera dan Motorik/Perilaku
Ø Dilihat secara
fisik, akan mudah ditentukan bahwa orang tersebut mengalami tunanetra. Hal itu
dapat dilihat dari kondisi matanya yang berbeda dengan mata orang awas dan sikap
tubuhnya yang kurang ajeg serta agak kaku.
Ø Anak tunanetra
pada umumnya menunjukkan kepekaan yang lebih baik pada indera pendengaran dan
perabaan dibandingkan dengan anak awas.
Ø Dalam aspek
motorik/perilaku, gerakan anak tunanetra terlihat agak kaku dan kurang
fleksibel, serta sering melakukan perilaku stereotif, seperti menggosok-gosok
mata dan menepuk-nepuk tangan.
Kebutuhan dan Layanan Pendidikan bagi Tunanetra
Ø Anak tunanetra
sebagaimana anak lainnya, membutuhkan pendidikan untuk mengem-bangkan potensi
yang dimilikinya secara optimal. Oleh karena adanya gangguan penglihatan, anak
tunanetra membutuhkan layanan khusus untuk merehabilitasi kelainannya, yang
meliputi: latihan membaca dan menulis huruf Braille, penggunaan tongkat,
orientasi dan mobilitas, serta latihan visual/fungsional penglihatan.
Ø Layanan
pendidikan bagi anak tunanetra dapat dilaksanakan melalui sistem segregasi,
yaitu secara terpisah dari anak awas; dan integrasi atau terpadu dengan anak
awas di sekolah biasa. Tempat pendidikan dengan sistem segregasi, meputi:
sekolah khusus (SLB-A), SDLB, dan kelas jauh/kelas kunjung. Bentuk-bentuk
keterpaduan yang dapat diikuti oleh anak tunanetra yang mengikuti sistem
integrasi, meliputi: kelas biasa dengan guru konsultan, kelas biasa dengan guru
kunjung, kelas biasa dengan ruang-ruang sumber, dan kelas khusus.
Ø Strategi
pembelajaran bagi anak tunanetra; pada dasarnya sama dengan strategi
pembelajaran bagi anak awas, hanya dalam pelaksanaannya memerlukan modifikasi
sehingga pesan atau materi pelajaran yang disampaikan dapat diterima/ditangkap
oleh anak tunanetra melalui indera-indera yang masih berfungsi.
Ø Dalam
pembelajaran anak tunanetra, terdapat prinsip-prinsip yang harus
diperhatikan,antara lain prinsip: individual, kekonkritan/pengalaman
penginderaan, totalitas, dan aktivitas mandiri (selfactivity).
Ø Menurut
fungsinya, media pembelajaran dapat dibedakan menjadi: media untuk menjelaskan
konsep (alat peraga) dan media untuk membantu kelancaran proses pembelajaran
(alat bantu pembelajaran).
Ø Alat peraga yang
dapat digunakan dalam pembelajaran anak tunarungu meliputi: objek atau situasi
sebenarnya, benda asli yang diawetkan, tiruan /model (tiga dimensi dan dua
dimensi), serta gambar( yang tidak diproyeksikan dan yang diproyeksikan ).
Ø Alat bantu
pembelajaran, antara lain meliputi: alat bantu menulis huruf Braille (reglet,
pen dan mesin ketik Braille); alat bantu membaca huruf Braille (papan huruf dan
optacon); alat bantu berhitung (cubaritma, abacus/sempoa, speech calculator),
serta alat bantu yang bersifat audio seperti tape-recorder.
Ø Evaluasi
terhadap pencapaian hasil belajar pada anak tunanetra pada dasarnya sama dengan
yang dilakukan terhadap anak awas, namun ada sedikit perbedaan yang menyangkut
materi tes/soal dan teknik pelaksanaan tes. Materi tes atau pertanyaan yang
diajukan kepada anak tunanetra tidak mengandung unsur-unsur yang memerlukan
persepsi visual; apabila menggunakan tes tertulis, soal hendaknya diberikan
dalam huruf braille atau menggunakan reader (pembaca) apabila menggunakan huruf
awas.
10.
Uraikan
olahraga yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis kelainan yang dihadapi.
Ø Olahraga beregu
yang sering dimainkan oleh anak ABK
1.
Bola
basket
2.
Sepak
bola
3.
Bola
voly
4.
Goal
ball
11.
Apa
yang dimaksud dengan:
Ø Handicap : Ketidak
beruntungan individu yang dihasilkan dari impairment atau disability yang
membatasi atau menghambat
pemenuhan peran yang normal pada individu.
Ø Disability : keterbatasan
atau kurangnya kemampuan (yang dihasilkan dari impairment) untuk menampilkan aktivitas sesuai dengan aturannya atau
masih dalam batas normal, biasanya digunakan dalam
level individu.
Ø Hearing
disorders : (Kelainan pendengaran atau tunarungu)
Ø Visual
Impairment : (kelainan Penglihatan atau tunanetra)
Ø Physical
Disability : (kelainan Fisik atau tunadaksa)
Ø Multy handicap : (cacat lebih
dari satu atau tunaganda)
Ø Learning disability : (ketidakmampuan belajar atau Kesulitan
belajar khusus)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar