Senin, 25 April 2016

KLASIFIKASI CEDERA PADA OLAHRAGA

A. Cidera Ringan   
Cidera ringan yaitu cidera yang di alami tidak begitu serius, namun dapat menggagu aktifitas seperti: lecet, luka, lepuh, kontuiao, hematoma dan kram.
1. Cidera    lecet

luka lecet merupakan luka yang di sebabkan oleh gesekan oleh benda atau lantai yang tidak halus yang menyebabkan permukaan kulit terkelupas dan berdarah namun tidak mengalami pendarahan.
Luka lecet, adalah sebagian kulit terkelupas dan umumnya tidak banyak perdarahan yang keluar. Luka lecet bisa disebabkan karena jatuh atau terpeleset.
Menurut saya Lecet adalah luka dangkal terbuka yang menimbulkan perdarahan dan kerusakan ujung-ujung saraf di kulit, yang menimbulkan rasa perih.

2. Cidera luka
luka merupakan sesuatu kerusakan pada struktur atau fungsi tubuh yang dikarenakan suatu paksaan atau tekanan fisik maupun kimiawi (wikipedia).

Luka merupakan suatu kerusakan integritas kulit yang dapat terjadi ketika kulit terpapar suhu atau pH, zat kimia, gesekan, trauma tekanan dan radiasi. Respon tubuh terhadap berbagai cedera dengan proses pemulihan yang kompleks dan dinamis yangmenghasilkan pemulihan anatomi dan fungsi secara terus menerus disebut dengan penyembuhan luka (Joyce M. Black, 2001).
Sedangkan menurut  Taylor (1997) Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit.
Menurut  Kozier ( 1995) luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain. Luka juga dapat merujuk pada luka batin atau perasaan.

3. Cidera lepuh



Lepuh (blister), secara medik disebut vesicle, adalah kantong kecil di kulit berisi cairan serous dan diameternya  1 cm disebut bula. Lepuh dapat terjadi karena gesekan atau masalah kesehatan lainnya. Berikut, penyakit dan kondisi yang bisa menyebabkan lepuh. (National Library of Medicine).



4. Cidera memar (kontusio)


Memar adalah cedera yang disebabkan oleh benturan atau pukulan pada kulit. Jaringan di bawah permukaan kulit rusak dan pembuluh darah kecil pecah, sehingga darah dan cairan seluler merembes ke jaringan sekitarnya (Morgan, 1993: 63)
Memar  menimbulkan daerah kebiru-biruan atau kehitaman pada kulit. Bila terjadi pendarahan yang cukup, timbulnya pendarahan didaerah yang terbatas  (Hartono Satmoko, 1993:191).



5. Cidera lebam (hematoma)



lebam adalah suatu jenis cedera pada jaringan tubuh, yang menyebabkan aliran darah dari sistem kardiovaskular mengendap pada jaringan sekitarnya, disebut hematoma, dan tidak disertai robeknya lapisan kulit. memar ditimbulkan oleh trauma seperti tumbukan benda tumpul dan menimbulkan rasa sakit walaupun pada umumnya tidak berbahaya. Endapan sel darah pada jaringan kemudian mengalami fagositosis dan didaurulang oleh makrofaga. Warna biru atau ungu yang terdapat pada memar merupakan hasil reaksi konversi dari hemoglobin menjadi bilirubin. Lebih lanjut bilirubin akan dikonversi menjadi hemosiderin yang berwarna kecoklatan. 

6. Cidera kram


Menurut Basoeki (2005) kram otot merupakan kontraksi otot tertentu yang berlebihan, terjadi secara mendadak tanpa disadari. Otot yang mengalami kram sulit untuk menjadi rileks kembali. Bisa dalam hitungan menit bahkan jam untuk meregangkan otot yang kram itu. Kontraksi dari kram otot sendiri dapat terjadi dalam waktu beberapa detik sampai beberapa menit. Kram otot dapat terjadi pada tangan, kaki, maupun perut.

Menurut Mohamad (2001) kram otot dapat terjadi karena letih, biasanya terjadi pada malam hari, dapat pula karena dingin, dan dapat pula karena panas. Pada otot bergaris, kram dapat disebabkan kelelahan, dehidrasi atau kekurangan cairan dan elektrolit (terutama kekurangan kalium dan natrium), dapat juga akibat trauma pada tulang dan otot yang bersangkutan, atau kekurangan magnesium.

B. Cidera Sedang

Sprain dan strain merupakan bentuk cedera pada sistem musculoskeletal. Meskipun ini merupakan dua kata yang dapat dipertukarkan dalam penggunaannya, sprain dan strain merupakan dua tipe cedera yang berbeda.

1. Strain


strain adalah tarikan pada otot, ligament atau tendon yang di sebabkan oleh ransanagan (stretch) yang berlebihan dalam bahasa kita di sebut” kram otot”.(smeltzer suzame.2001).

2. Sprain


sprain adalah kekoyakan pada otot, ligament atau tendon yang dapat bersipat sedang atau parah,dalam bahasa kita di sebut “ keseleo”( smeltzer suzame.2001).

C. Cidera Berat
1. Dislokasi



Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kekuatan sendi. Diskolasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponentulang dari tempat yang seharusnya.(arif Mansur ,dkk.2000).


  1. Fraktur

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer S.C & Bare B.G, 2001) atau setiap retak atau patah pada tulang yang utuh (Reeves C.J, Roux G & Lockhart R, 2001).
Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma. Patah tulang tertutup adalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Pendapat lain menyatakan bahwa patah tulang tertutup adalah suatu fraktur yang bersih (karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi (Handerson, M. A, 1992)


Senin, 04 April 2016

FAKTOR PSIKOLOGI YANG MENYEBABKAN CEDERA

Psikologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang jiwa dan semua aspek tingkah laku manusia baik aspek kognitif, afektit, ataupun psikomotor. Psikologi juga mempersoalkan inti dari jiwa manusia dan nilainya bagi manusia itu sendiri serta disekitarnya. Olahraga merupakan Perilaku gerak manusia yang bersifat universal yang tidak hanya berorientasi pada fisik semata, namun juga aspek psikisnya. 
Psikologi olahraga adalah sebuah bidang kajian yang menerapkan prinsip-prinsip psikologi dalam setting olahraga, baik penampilan individual maupun tim, ditandai oleh sejumlah interaksi dengan individu lain dan situasi-situasi eksternal yang menstimulasinya. (Singer, 1980; Sudibyo, 1989) Jadi psikologi olahraga secara umum merupakan : Ilmu yang mempelajari kejiwaan dan tingkah laku para pelaku olahraga baik atlet, official, pelatih, dan juga suporter. Dan memahami aspek-aspek psikologi melalui olahraga.
Faktor Psikis
Faktor psikologis ternyata berpengaruh terhadap tingkat cedera yang diderita oleh atlet, hal ini terbukti telah diteliti oleh Rotela dan teman-teman bahwa faktor kepribadian, level stress dan beberapa sikap tertentu adalah penyebab terjadinya cidera. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain adalah:
1.     Faktor kepribadian                                                                                                  
Faktor kepribadian adalah faktor yang pertama yang berhubungan dengan cidera atlet. Para peneliti ingin memahami apakah konsep diri, pengaruh dari dalam maupun luar dan berpikir keras sangat berhubungan dengan cidera tersebut. Atlet yang mempunyai konsep diri yang rendah mudah terkena cidera dibandingkan dengan atlet yang  mempunyai konsep diri tinggi. Penelitian terbaru menunjukan bahwa faktor pesonaliti seperti optimisme, percaya diri, ketabahan dan kecemasan berperan dalam cidera atlet.
2.      Tingkat stress
   Telah diidentifikasi bahwa tingkat stres berperan penting dalam cidera atlet. Penelitian telah membuktikan hubungan antara tekanan hidup dan tingkat cidera. Pengukuran tingkat stres ini di fokuskan pada perubahan hidup,contohnya putus cinta, pindah ke kota baru, atau perubahan status ekonomi. Secara keseluruhan bukti-bukti menunjukan bahwa atlet dengan pengalaman tekanan hidup yang lebih tinggi lebih sering cidera dibandingkan atlet dengan tekanan hidup yang lebih rendah. Sebaiknya para instruktur profesional sebaiknya memahami perubahan ini, secara hati-hati memonitor dan memberikan pelatihan hidup secara psikologis. Penelitian juga telah mengidentifikasi stress muncul pada atlet ketika cidera dan ketika di rehabiitasi saat cidera. Contohnya kurangnya perhatian dan terisolasi. Teknik managemen pelatihan stress tidak hanya menolong atlet dan instrutur untuk lebih efektif secara penampilan tetapi juga mungkin menghindari resiko mereka terkena cidera dan sakit.
1.    Hubungan Stres dan cedera
Ada dua teori yang akan menjelaskan hubungan antara stress dan cidera.
a.       Perhatian yang tergangu
Satu hal yang pasti adalah bahwa stress akan mengangu perhatian seorang atlit dengan kurangnya perhatian akan sekelilingnya. Contohnya seorang pemain quaterback dalam American football mengalami tekanan stress yang tinggi akan berkemungkinan cidera karena dia tidak melihat pemain bertahan lainnya berlari di depannya sehingga kemungkinan besar akan terjadi benturan dengan pemain belakang lawan. Ketika tingkatan stressnya lebih rendah, seorang quarterback akan mempunyai fokus perhatian akan lapangan maupun musuh disekelilingnya sehingga dapat mengurangi benturan dari pemain bertahan lawan dan mengurangi resiko cidera.
b.      Ketegangan Otot
Stress tingkat tinggi dapat timbul bersamaan dengan ketegangan otot yang bertentangan dengan kondisi normal dan meningkatkan peluang untuk cidera. Guru dan pelatih yang mempunyai seorang atlet yang kehidupannya mengalami perubahan (seorang siswa yang orang tuanya bercerai), sebaiknya sangat memperhatikan sikap atlit tersebut , jika menunjukan tanda-tanda ketegangan otot atau sulit untuk fokus ketika tampil, adalah hal yang bijak diberikan pelatihan stress.

Faktor psikologi lainnya yang merupakan penyebab cedera
Hal lain yang menyebabkan stress menurut ahli psikologi adalah beberapa sikap para pelatih, seperti “act tough and always give 110%” atau “jangan menerima apa adanya atau berusaha keras dan selalu memberikan 110%” jika kamu cidera kamu tidak berharga, sikap-sikap ini juga sangat memungkinan menyebabkan atlet cidera.
1.       Act Tough and give 110%
Semboyan atau slogan seperti berusaha keras atau pulang, tidak sakit tidak ada penghargaan, pergi untuk bertempur adalah ucapan-ucapan pelatih untuk menyemangati. Para pelatih memaksa atlit-atlit mereka bekerja keras atau selalu mengambil resiko. Seharusnya kata-kata ini tidak ditekankan terlalu sering, sehingga atlet siap mengambil resiko, seperti menekel lawan dalam sepakbola sehingga terjadi cidera.
2.      Jika kamu cidera kamu tidak berharga
Beberapa orang merasa tidak berharga ketika mereka terluka, sikap ini berkembang melalui beberapa hal. Pelatih boleh menyampaikan, menyadarkan bahwa kemenangan adalah lebih penting di bandingkan kesejahteraan atlet. Ketika seorang pemain atau atlet cidera, tidak memberikan kontribusi untuk menang. Atlet yang cidera terkadang tetap bermain sehingga cideranya semakin parah.
3.     Reaksi psikologis atlet yang cidera
Cidera tidak dapat di pisahkan dari aktifitas fisik, meski pun memiliki peralatan yang lengkap, resiko cidera tidak dapat di pisahkan. Ahli psikologi dan pelatih atlet mengidentifikasi beberapa reaksi psikologis akibat cidera. Olahragawaan dan instruktur kebugaran harus mengamati beberapa respon/tangapan dari cidera tersebut yang antara lain:
1.  Tanggapan emosional
Reaksi pertama atlet yang mengalami cidera adalah perasaan  sedih. reaksi kesedihan yang ditandai dengan empat tahapan kesedihan:
a.       Penolakan
b.      Kemarahan
c.       Depresi
Atlit yang mengalami cidera menunjukan reaksi kesedihan dan reaksi emosional. akan tetapi terkadang tidak selalu mengikuti atau sesuai tahapan di atas. Berikut tiga reaksi secara umum atlit yang mengalami cidera:
a)      Pengolahan informasi relevan cidera
Atlet yang cidera fokus pada informasi yang terkait dengan cideranya, kesadaran tingkat cidera, bagaimana cidera itu terjadi dan konsekuesi negative atau ketidak nyamanan
b)   Pergolakan emosi dan perilaku reaktif: Atlet menyadari bahwa dia cidera, menjadi gelisah, bimbang, merasa emosional, terisolasi dan merasa shock, tidak percaya, menolak dan merasa kasihan/mengkasihani diri sendiri.
c)      Harapan positif dan penerimaan
Atlet yang dapat menerima keadaan cidera akan memiliki sikap yang baik dan optimis. Penerimaan atas kondisi cidera ini masing-masing atlet bervariasi, ada yang dalam sehari dan ada yang berminggu-minggu atau bahkan beberapa bulan.
2.  Tanggapan yang lain atau reaksi lain
Reaksi tambahan psikologis atlet yang mengalami cidera, antara lain:
a)      Kehilangan identitas.
Beberapa atlet yang tidak dapat berpartisipasi karena cidera kehilangan identitas pribadi. Artinya, bagian penting dari diri mereka hilang, dan mempengaruhi kosep diri.
b)      Ketakutan dan kecemasan
Ketika cidera, banyak atlet mengalami ketakutan dan kecemasan tingkat tinggi. Mereka kawatir apakah mereka akan pulih, apakah akan kembali cidera, apakah ada seseorang yang akan menggantikan mereka secara permanen dalam lineup club.
c)      Kurangnya kepercayaan diri Mengingat ketidakmampuan untuk berlatih dan bersaing, dan status memburuk fisik mereka, atlet kehilangan kepercayaan diri setelah cidera. Menurunnya kepercayaan dapat berakibat penurunan motivasi, penurunan penampilan, atau cidera bertambah jika atlet berlebihan (kurang kepercayaan).
d)     Penurunan penampilan.
Karena penurunan kepercayaan dan kehilangan waktu latihan, atlet mengalami penurunan penampilan. Banyak atlet mengalami penurunan penampilan setelah cidera dan berharap untuk kembali ke level penampilan seperti sebelum cidera.
3.         Psikologi atlet saat cedera
Tangapan orang (atlet) pada saat cidera menunjukan emosi negatif, namun mereka tidak kesulitan dalam menghadapinya. Berikut tanda emosional atlet pada saat cidera.
· Perasaan marah dan kebingungan
· Obsesi dengan pertanyaan tentang kapan bisa kembali bermain
· Penolakan (misal, cidera adalah bukan masalah besar)
· Ingin segera kembali dan megalami masa sebelum cidera
· Mengeluh
· Merasa bersalah membiarkan tim terpuruk
· Menarik diri dari orang lain
· Cepat berubah suasana hati
Seorang instruktur kebugaran dan pelatih yang megetahui gejala-gejala ini harus menyarankan untuk di diskusikan ke psikolog olahraga atau konselor. Dalam hal ini bila ada rekasi tidak normal akibat cidera sebaiknya di rujuk ke psikolog olahraga.